Berapa kah sebenarnya harga remaja
yang bersih dari gelodak kecewa ?
Berapakah sebenarnya harga remaja
bagai kehijauan pohon di perjalanan ?
Dengan apakah akan kau penuhi piala remajamu?
Adakah cuka kesangsian dari cinta murah
atau madu ajaran dari ilmu susah?
Remaja amat mahal sesungguhnya
tiada terbeli oleh perjanjian
Remaja amat mahal sesungguhnya
harga remaja pendirian, keberanian.
Wednesday, June 29, 2011
Katakan Padaku
Katakan padaku
sejak puisi mengalir
sejak langit meratap
mengapa air mataku
terasa baru bagai embun
terasa baru
Burung rembang membuka sayap
daun daun menjadi lebih redup
aku lewat lagi berdayung di depan mu
kau siap lagi berdiri di tebing
semua pohon menjadi sepohon di samping mu
semua detik menjadi sedetik di matamu
sungai ini pun terasa betapa gemuruh
menyambut semarak api di bahumu
katakan padaku
sejak malam menjelma
sejak maut menyentuh
mengapa sepi jiwamu
terasa baru bagai pedihku
terasa baru.
sejak puisi mengalir
sejak langit meratap
mengapa air mataku
terasa baru bagai embun
terasa baru
Burung rembang membuka sayap
daun daun menjadi lebih redup
aku lewat lagi berdayung di depan mu
kau siap lagi berdiri di tebing
semua pohon menjadi sepohon di samping mu
semua detik menjadi sedetik di matamu
sungai ini pun terasa betapa gemuruh
menyambut semarak api di bahumu
katakan padaku
sejak malam menjelma
sejak maut menyentuh
mengapa sepi jiwamu
terasa baru bagai pedihku
terasa baru.
Semalam Di Malaya
Aku pulang dari rantau
bertahun tahun di negeri orang
Oh Malaya.....
Oh di mana kawan dulu
kawan dulu yang sama berjuang
Oh Malaya.....
Kekasih hatiku pun pula telah hilang
hilang tak berpesan aduhai nasih
apakah daya....?
Cinta hampa hidupku pun melara
mana dia...?
Inilah kisahku semalam di Malaya
Diri rasa sunyi aduhai nasib
apakah daya....?
aku hanya seorang pengembara
yang hina.
bertahun tahun di negeri orang
Oh Malaya.....
Oh di mana kawan dulu
kawan dulu yang sama berjuang
Oh Malaya.....
Kekasih hatiku pun pula telah hilang
hilang tak berpesan aduhai nasih
apakah daya....?
Cinta hampa hidupku pun melara
mana dia...?
Inilah kisahku semalam di Malaya
Diri rasa sunyi aduhai nasib
apakah daya....?
aku hanya seorang pengembara
yang hina.
Serunai Malam
Dari mana datang rasa kasih sayang
dari mata ke hati lalu dikenang
kerana budi menjadi tunangan
sumpah setia disaksikan bintang
bercerai mati batasnya didunia sayang
diakhirat kita berjumpa pula.
Mengapa hatiku selalu rindu dendam
kerna kekasih tak jumpa seharian
tidur tak nyenyak wajahmu terbayang sayang
air setitik tak dapat ku telan
hendak bergurau di manakah kawan sayang
hanya lah guling dan bantal bersulam,
aduhai sayang serunai malam.
dari mata ke hati lalu dikenang
kerana budi menjadi tunangan
sumpah setia disaksikan bintang
bercerai mati batasnya didunia sayang
diakhirat kita berjumpa pula.
Mengapa hatiku selalu rindu dendam
kerna kekasih tak jumpa seharian
tidur tak nyenyak wajahmu terbayang sayang
air setitik tak dapat ku telan
hendak bergurau di manakah kawan sayang
hanya lah guling dan bantal bersulam,
aduhai sayang serunai malam.
Pohon
Sebatang pohon kerdil
ku baja dengan air perasaan
tapi tak dapat kulindungi dari matahari
maka kontang oleh kenyataan
daunnya merontok,
kelmarin pagi pohon menguning
hanya sehelai dua masih rapuh di ranting.
Tetapi aku tahu
tak semua pohon akan merimbun
atau berani hidup
di bawah matahari.
ku baja dengan air perasaan
tapi tak dapat kulindungi dari matahari
maka kontang oleh kenyataan
daunnya merontok,
kelmarin pagi pohon menguning
hanya sehelai dua masih rapuh di ranting.
Tetapi aku tahu
tak semua pohon akan merimbun
atau berani hidup
di bawah matahari.
Thursday, May 19, 2011
Kasih Pilihan
Kan ku kirim di angin lalukasih suci untuk mu sayang
semoga kau sejahtera
hadapi ujian dari Ilahi
kan ku pesan di ombak senja
bawalah harapan hamba
bersabar dan tenang selalu
sungguh kaulah pilhanNya
Tidak pernah kau lukai hatiku
sejak dulu hingga kini
kau turut pesananku
membuktikan kasih dan sayangmu
Andainya dugaan ini
tanda kasih Maha Pencipta
ku redhai hidupmu
dari dunia hingga ke akhirnya
Tuesday, May 4, 2010
Cintamu Natrah

Duka tidak tertahan
tangis tidak terhenti
resah tidak menjanjikan
bahgia nan abadi
Sinar di hujung mimpi
mentari terus menyepi
mengharap suatu yang tak pasti
terhimpunlah pasrah dihati
Aduhai Natrah, kau menyedarkan kami
Aduhai Natrah, kau satukan jiwa kami
Aduhai Natrah, bangkitkan beribu kami
tapi dirimu terpenjara
Aduhai Natrah, bangkitkan beribu kami
sedang kami bebas merdeka
Moga yang ada kini
tak diulit mimpi lagi
Moga yang ada kini
tidak lagi menyepi
Kini kau telah pergi
tidak akan kembali lagi
derita dan lara cintamu
memahat kenangan sedih.
Puisi: Fatini & Ahmad
Lagu: Ahmad Ramli
Monday, December 28, 2009
Lagu puisi terakam tetapi belum dialbumkan

· Aku Mencari Damai Abadi – Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi
· Hari Menuai – Amir Hamzah
· Sajak Untuk Pon Mariam (Johan sayembara lagu Puisi 1998 DBP)– Kemala
· Pasca Merdeka – Gunawan Mahmud
· Kita – Salmiah Ismail
· Salamku – Salmiah Ismail
· Di Sudut Sukma – A Rahim Abdullah
· Lapar dan Cinta – Rahman Shaari
· Aku Hanya Mahu Ke Seberang- Hashim Yaakob
· Kesepian – Rejab FI
· Dalam Pengadilan – Jihaty Abadi
· Mendamba Damai – Redzuan Kamis
· Merpati Putih
· Demi Selaut Darah
· Pohon – Muhamad Haji Salleh
· Tsunami – Lim Swee Tin
· Pada Ketetapan Ini – Zurina Hassan
· Anak Pinggiran – Zaki Ghazali
· Terima Kasih Perdana Menteri(khusus untuk Dato'Sri Dr.Mahathir)-Ahmad Ramli
· Hari Menuai – Amir Hamzah
· Sajak Untuk Pon Mariam (Johan sayembara lagu Puisi 1998 DBP)– Kemala
· Pasca Merdeka – Gunawan Mahmud
· Kita – Salmiah Ismail
· Salamku – Salmiah Ismail
· Di Sudut Sukma – A Rahim Abdullah
· Lapar dan Cinta – Rahman Shaari
· Aku Hanya Mahu Ke Seberang- Hashim Yaakob
· Kesepian – Rejab FI
· Dalam Pengadilan – Jihaty Abadi
· Mendamba Damai – Redzuan Kamis
· Merpati Putih
· Demi Selaut Darah
· Pohon – Muhamad Haji Salleh
· Tsunami – Lim Swee Tin
· Pada Ketetapan Ini – Zurina Hassan
· Anak Pinggiran – Zaki Ghazali
· Terima Kasih Perdana Menteri(khusus untuk Dato'Sri Dr.Mahathir)-Ahmad Ramli
. Perjalanan Roh- Sabda S
. Terima Kasih Tuan(khusus untuk Tun Razak)-Olahan Ahmad Ramli dari Puisi Firdaus Abdullah
Puisi: Menunggu Pertemuan
Puisi: Siapakah?
Siapakah yang bisa menerka sesuatu yang tak terteka
maka itu panduan bertindak hanyalah firasat
maka itu panduan bertindak hanyalah firasat
yang sering bisa silap atau pun pengalaman masa lalu yang sering kabur dan keliru
siapakah yang mesti disesali jika tebu jadi teberau dan musim tengkujuh jadi kemarau
dalam kedaifan merancang masa depan yang hendak dijangkau dalam ratap dalam silap masa silam yang TERLAMPAU.
Sunday, August 30, 2009
Salam Puisi
Salam Puisi. Saya masih menerima pertanyaan mengenai album pertama saya dahulu. Untuk anda, tiada apa yang mampu saya zahirkan melainkan ucapan terima kasih atas sokongan dan penghargaan yang diberikan kepada saya selama ini. Bagi mereka yang ingin memiliki semula album tersebut bolehlah menghubungi saya di email ahmadramli@hotmail.com.Saturday, August 29, 2009
Puisi: Kekasih
Akan kupintal buih-buih
menjadi tali mengikatmu
akan ku anyam gelombang
menjadi hamparan ranjang tidurmu
akan kutenun awan gemawan
menjadi selendang menudungi rambutmu
akan kutenun awan gemawan
menjadi selendang menudungi rambutmu
akan ku jahit bayu gunung
menjadi baju pakaian malammu
akan ku petik bintang timur
akan ku petik bintang timur
menjadi keronsang menyinari dadamu
akan ku jolok bulan gerhana
menjadi lampu penyuluh rindu
akan ku rebahkan matahari
menjadi laut malammu
menghirup sakar madumu
Kekasih
hitunglah mimpi
yang membunuh realiti
dengan syurga ilusi.
Friday, August 28, 2009
Lagu-lagu Album Puisi KEKASIH
Album "Lagu-lagu Penghayatan Puisi KEKASIH" telah diterbitkan oleh EMI pada tahun 1996 dengan memuatkan 9 buah lagu ciptaan saya yang dipadankan dengan puisi hasil karya penyair tanah air serta sebuah lagu dari filem Gurindam Jiwa. Antaranya ialah:-- Kekasih ( Usman Awang )
- PadaMu Jua(Amir hamzah)
- Menambat Rakit ( Dato'A.Samad Said )
- Katakan Padaku ( Latiff Mohiddeen )
- Monolog Arjuna( Rahim Abdullah )
- Harga Remaja ( Rahman Shaari )
- Menunggu Pertemuan (A.Aziz Deraman)
- Siapakah?(Firdaus Abdullah)
- Pada Waktu-Waktunya (Darmawijaya)
Penghargaan buat peminat..
Sehingga kini, saya masih dihujani pertanyaan oleh peminat - peminat lagu puisi mengenai album pertama yang saya terbitkan pada tahun 1996 yang lalu. Oleh kerana lagu 'Katakan padaku' puisi hasil karya Latiff Mohidden kerap disiarkan oleh Klasik Nasional, ramai yang bertanyakan di manakah album tersebut boleh di dapati.Saya sendiri tidak terduga setelah hampir 13tahun dipasarkan ianya masih diminati. Saya amat terharu dan tiada perkataan lain yang mampu saya zahirkan selain ucapan terima kasih kerana menghargai kerja - kerja seni saya selama ini. Bagi mereka yang ingin mendapatkan album puisi KEKASIH, saudara bolehlah menghubungi saya di email ahmadramli@hotmail.com. Album Puisi Kekasih tersebut memuatkan 12 buah lagu puisi hasil karya penyair tanahair dan Amir Hamzah, Pujangga Baru.
Thursday, August 27, 2009
Puisi: PadaMu Jua
pulang kembali aku padaMu seperti dulu
kaulah kandil kemerlap pelita jendela
di malam gelap melambai pulang perlahan
sabar setia selalu
Satu kekasihku
di malam gelap melambai pulang perlahan
sabar setia selalu
Satu kekasihku
aku manusia
rindu rasa rindu rupa
di mana Engkau
di mana Engkau
rupa tiada
suara sayup
hanya kata merangkai hati
Engkau cemburu Engkau ganas mangsa aku
dalam cakarMu bertukar tangkap dengan lepas
Nanar aku gila sasar sayang berulang
Engkau cemburu Engkau ganas mangsa aku
dalam cakarMu bertukar tangkap dengan lepas
Nanar aku gila sasar sayang berulang
padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Engkau pelik menarik ingin
serupa dara di balik tirai
Kasihmu sunyi menunggu seorang diri
lalu waktu
Kasihmu sunyi menunggu seorang diri
lalu waktu
bukan giliranku
mati hari
mati hari
bukan kawanku.
Puisi: Menambat Rakit
Sesudah demikian lama dicintai sukarlah dilupakan
Inti pengalaman, kepedihan
akar kerinduan keresahan.
Memang begitu banyak
diperlukan kekuatan
kepangkalan batin rakit ditambatkan
bara kenangan dikuatkan
Akhirnya tak terduga
kekuatan membuak sendiri
dan disedari semua takkan sampai
ke dasar inti
Tiada lagilah bezanya sama ada hilangnya kemudian atau tenggelamnya sekarang
Tiada juga bezanya , jika ia langsung tak datang atau tiba-tiba terkorban
Kepiluan yang berlanjut akhirnya, ditenterami keyakinan,
betapa dielak pun takdir
tetap terbuka pintunya
bertanya: manusia, engkau ini sebenar-benarnya siapa..
~A. Samad Said (1985 )
Puisi: Kita Ini Tetamu Senja
Kita datang ini hanya sebagai tetamu senjaBila cukup detik kembalilah kita kepadaNya
Kita datang ini kosong tangan kosong dada
Bila pulang nanti bawa dosa bawa pahala
Pada tetamu yang datang dan kenal jalan pulang
Bawalah bakti mesra kepada Tuhan kepada insan
Pada tetamu yang datang dan lupa jalan pulang
Usahlah derhaka pula kepada Tuhan kepada insan.
Bila kita lihat manusia lupa tempat
Atau segera sesat puja darjat puja pangkat
Segera kita insaf kita ini punya kiblat
Segera kita ingat kita ini punya tekad
Bila kita lihat manusia terbiar larat
Hingga mesti merempat ke biru laut ke kuning darat
Harus kita lekas sedar penuh pada tugas
Harus kita tegas sembah seluruh rasa belas
Kita datang ini satu roh satu jasad
Bila pulang sekali bawalah bakti padat berkat
A. Samad Said
Salam Puisi

Salam sejahtera dan salam puisi. Walaupun sudah lama saya tidak merakamkan lagu - lagu puisi untuk di albumkan, saya masih aktif berkarya dan kerap menerima undangan di seluruh negara. Terkini, saya baru selesai merakamkan klip video untuk sebuah rancangan terbitan tv tempatan yang dibuat khusus untuk Sasterawan Negara Dato' A.Samad Said. Saya menyanyikan dua buah lagu puisi Pak Samad iaitu sebuah lagu baru "Kita Ini Tetamu Senja" dan "Menambat Rakit" dari album saya. Walaupun lagu menambat rakit dirakamkan 13 tahun yang lalu, namun ianya masih diminati sehingga kini. Terima kasih kepada peminat - peminat lagu puisi yang terus memberikan sokongan kepada saya.
Empat klip video yang lain juga telah selesai dibuat pengambaran di Kuala Lumpur untuk Muzik Aktif saluran Astro dengan lagu-lagu puisi ; Katakan Padaku, Padamu Jua, Monolog Arjuna dan Aku Mencari Damai Abadi. Semoga akan terhibur semua peminat sekalian.
Ahmad Ramli
Subscribe to:
Posts (Atom)


